Strategi Barbell Portfolio Jaga Tabungan di Tengah Ekonomi Tak Pasti

Penulis: Saiful  •  Minggu, 04 Oktober 2026 | 08:35:01 WIB
Founder DNA Finance Aliyah Natasya memaparkan strategi barbell portfolio dalam acara Cerdas Literasi Keuangan Digital yang digelar Katadata.

GORONTALO — Aliyah Natasya, Founder DNA Finance, menyarankan strategi barbell portfolio untuk membagi investasi ke dua tujuan: mengamankan aset dan menumbuhkan kekayaan. Strategi ini dinilai relevan ketika pendapatan dan pengeluaran berubah-ubah akibat ketidakpastian ekonomi.

Dalam acara Cerdas Literasi Keuangan Digital yang digelar Katadata, Aliyah menjelaskan bahwa portofolio investasi sebaiknya tidak diletakkan pada satu tujuan saja. Ada dua fungsi utama yang perlu dipisahkan: melindungi nilai aset yang sudah dimiliki dan mengejar pertumbuhan.

"Fundamentalnya apa? Dua tujuan investasi. Yang satu adalah mengamankan, mengamankan ini mengamankan apa? Mengamankan uang dan value yang udah teman-teman punya. Yang kedua adalah menumbuhkan," ujar Aliyah.

Menurutnya, pemisahan ini membantu investor tetap tenang ketika pasar bergejolak. Sisi pengamanan menjaga modal tetap utuh, sementara sisi pertumbuhan memberi ruang untuk mengejar imbal hasil lebih tinggi.

Instrumen untuk Masing-Masing Sisi Portofolio

Aliyah menyebut emas, reksa dana pasar uang, dan valuta asing sebagai instrumen yang cocok untuk sisi pengamanan. Ketiganya punya karakter lebih stabil dibanding aset berisiko tinggi.

Untuk sisi pertumbuhan, investor dapat mempertimbangkan reksa dana saham, saham langsung, hingga kripto. Catatannya, pemahaman terhadap risiko menjadi syarat utama sebelum masuk ke instrumen tersebut.

Komposisi portofolio juga perlu disesuaikan dengan kondisi pasar. Saat ekonomi tidak pasti, Aliyah mengaku lebih banyak menempatkan dana pada instrumen pengamanan aset. Sebaliknya, ketika pasar sedang tumbuh, porsi untuk mengejar pertumbuhan bisa diperbesar.

Kelola Pengeluaran Sebelum Pilih Instrumen

Praktisi Pasar Modal Ricky Susanto Joeng menambahkan bahwa kebiasaan menabung harus dibangun lebih dulu sebelum seseorang menentukan instrumen investasi. Langkah awalnya adalah mencatat pengeluaran secara rutin.

Pencatatan ini membuat seseorang tahu berapa besar pendapatan yang benar-benar bisa dialokasikan ke tabungan. Ricky pernah mengalami masa pendapatan tidak pasti, dan kebiasaan mengatur pengeluaran membuatnya tetap bisa menyisihkan porsi besar dari penghasilan.

Ia mencontohkan, seseorang dengan pengeluaran rutin Rp 1,2 juta per bulan yang kemudian berpenghasilan Rp 5 juta seharusnya punya ruang tabungan lebih besar, asalkan gaya hidupnya tidak ikut naik signifikan.

"Income makin besar artinya saving makin besar," ujar Ricky.

Waspadai Lifestyle Inflation

Kenaikan pendapatan kerap diikuti kenaikan gaya hidup, atau yang dikenal sebagai lifestyle inflation. Dampaknya, tambahan penghasilan yang seharusnya masuk tabungan justru habis untuk pengeluaran baru.

Ricky mengaku pernah mampu menabung sekitar 60-70% dari penghasilannya karena pengeluaran tidak langsung meningkat saat pendapatannya bertambah. Kebiasaan itu menjadi fondasi penting ketika kondisi ekonomi berubah dan harga-harga naik.

"Yang udah pernah habit, yang udah pernah dibangun, tabungan-tabungan, investasi yang sebelumnya udah pernah dilakukan, itu yang membantu saya saat ini," kata Ricky.

Bagi masyarakat yang baru mulai mengelola dana, Ricky menyebut deposito dan reksa dana pasar uang sebagai instrumen yang bisa dipelajari lebih dulu. Emas juga dapat menjadi pilihan untuk diversifikasi aset.

Mulai dari Nominal Kecil

Bagi investor berusia 20-an, Aliyah menilai periode tersebut tepat untuk meningkatkan literasi keuangan dan belajar mengambil risiko secara bertahap dengan nominal terukur.

"Kalau saya punya waktu kembali ke 20-an, hal pertama mungkin yang akan saya lakukan adalah satu, beli emas," katanya.

Kombinasi kebiasaan menabung yang kuat dan portofolio yang terbagi dua tujuan dinilai lebih tahan menghadapi ketidakpastian ekonomi dibanding mengejar imbal hasil tinggi tanpa perencanaan.

Reporter: Saiful
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top