GORONTALO — Forecaster BMKG Gorontalo membenarkan bahwa kondisi atmosfer di wilayah itu dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi asap dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik. Pemantauan BMKG masih menemukan sejumlah hotspot atau titik panas yang belum padam.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan asap dan membuat jarak pandang serta kondisi langit di sejumlah wilayah menjadi kurang baik.
Salah seorang warga, Ismawati, mengaku mendengar informasi bahwa kabut asap yang menyelimuti Gorontalo berasal dari Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi cukup besar di wilayah tersebut.
Meski begitu, Ismawati meyakini kondisi langit yang tampak berkabut dan dipenuhi asap lebih berkaitan dengan Karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Gorontalo.
"Saya mendengar kabarnya asap ini berasal dari Kalimantan karena kebakaran hutan yang cukup hebat. Tetapi saya juga melihat kemungkinan asap ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Gorontalo," ujar Ismawati.
Dari hasil pemantauan, BMKG masih mencatat beberapa titik api yang belum padam di sejumlah wilayah. Kondisi ini dapat menimbulkan asap yang kemudian memengaruhi kondisi atmosfer.
"Dari hasil pemantauan, masih terdapat beberapa hotspot atau titik api yang belum padam di sejumlah wilayah. Kondisi ini dapat menimbulkan asap yang kemudian memengaruhi kondisi atmosfer," jelas Forecaster BMKG Gorontalo.
Asap dari titik panas yang belum padam itu membuat langit di Gorontalo tampak mendung dan berkabut. Sejumlah warga pun bertanya-tanya apakah kondisi tersebut disebabkan kabut asap atau memang karena tutupan awan.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, terutama dalam kondisi cuaca yang berpotensi mendukung meluasnya kebakaran.
"Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan dan hutan, karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat," tambahnya.
Gorontalo saat ini masih berada pada periode musim kemarau. BMKG meminta masyarakat mewaspadai dampak kekeringan, termasuk kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi meluas.