GORONTALO — Rusia, Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman menyepakati level produksi minyak tetap pada November 2026. Keputusan itu tertuang dalam pernyataan resmi organisasi yang dikutip Minggu, tanpa menyebut tanggal spesifik pertemuan.
Ketujuh negara peserta memutuskan mempertahankan tingkat produksi yang ditetapkan untuk September 2026 berlaku pada November 2026. Sejak September, kelompok ini sudah menaikkan batas maksimum produksi sebesar 188.000 barel per hari, di luar jadwal kompensasi atas kelebihan produksi.
Angka produksi terbaru belum memasukkan keputusan aliansi memperpanjang periode kompensasi atas kelebihan produksi minyak. Jadwal sebelumnya berakhir pada akhir Juni, sementara jadwal baru belum diumumkan.
Dengan menaikkan batas maksimum produksi menjadi 31,01 juta barel per hari, ketujuh negara tersebut menuntaskan proses pengakhiran pembatasan sukarela pada September. Level itu menjadi acuan berjalan hingga keputusan berikutnya.
Komite Pemantau Tingkat Menteri Bersama OPEC+ (JMMC) merekomendasikan agar tidak ada perubahan terhadap parameter kesepakatan produksi minyak saat ini. Rekomendasi itu muncul setelah komite meninjau data produksi minyak mentah untuk Juli dan Agustus 2026.
"JMMC meninjau data produksi minyak mentah untuk Juli dan Agustus 2026 serta mencatat kepatuhan secara keseluruhan oleh negara-negara OPEC dan non-OPEC yang berpartisipasi dalam Deklarasi Kerja Sama (DoC)," bunyi komunike yang diterbitkan setelah pertemuan pada Minggu.
Tidak ada keputusan baru yang diambil dalam pertemuan tersebut. JMMC OPEC+ berikutnya dijadwalkan pada 29 November.
"Ketujuh negara OPEC+ akan terus mengadakan pertemuan setiap bulan untuk meninjau kondisi pasar. Pertemuan berikutnya akan digelar pada 1 November 2026," tambah pernyataan tersebut.
Kebijakan ini berdampak pada harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan harga bahan bakar di Indonesia, termasuk di Gorontalo. Pemerintah biasanya menyesuaikan harga BBM bersubsidi dan non-subsidi berdasarkan pergerakan harga minyak global dan nilai tukar rupiah.
Bagi pelaku usaha di daerah, keputusan mempertahankan produksi berarti pasokan minyak global relatif stabil hingga akhir tahun. Namun fluktuasi harga masih bergantung pada perkembangan geopolitik dan permintaan musiman menjelang akhir tahun.