GORONTALO — Apple menyiapkan kontrol tambahan untuk fitur Full Disk Access di macOS setelah aplikasi Meta Muse terbukti menganalisis data komunikasi pengguna setiap jam. Pembaruan ini menyusul temuan peneliti keamanan bahwa Muse memetakan seluruh relasi pengguna, termasuk keluarga, pasangan, dan kolega. Pengguna Mac yang pernah memberikan izin akses penuh ke aplikasi pihak ketiga perlu mencermati perubahan ini.
Fitur Full Disk Access di macOS selama ini memberi aplikasi izin membaca hampir seluruh data di komputer, mulai dari pesan, dokumen, hingga riwayat komunikasi. Apple menyatakan fitur tersebut awalnya dirancang untuk aplikasi pencadangan (backup), tetapi kini dipakai pengembang untuk keperluan lain, termasuk agen AI. Kondisi itu memicu kekhawatiran serius soal privasi pengguna Mac.
Meta meluncurkan Muse Personal AI Agent untuk iPhone dan Mac, dan aplikasi itu langsung menembus peringkat atas App Store. Peneliti keamanan Karan Joshi menemukan Meta menginstruksikan Muse untuk mengekstrak seluruh informasi yang dibutuhkan guna membangun peta lengkap relasi pengguna.
Salah satu instruksi Muse adalah membuat "halaman untuk setiap orang dalam hidup pengguna". Proses ini berjalan setiap jam dan mengompilasi data soal keluarga, pasangan, teman, kolega, hingga orang yang diikuti pengguna.
Instruksi tersebut juga mencakup perekaman tanggal penting seperti ulang tahun dan hari jadi, plus riwayat personal seperti perjalanan pada Maret, pertengkaran yang sudah diselesaikan, atau pencapaian pekan lalu. Temuan ini pertama kali dilaporkan Wired.
Apple menyebut langkah pengetatan ini "kritis". Perusahaan berencana memperkenalkan kontrol tambahan agar pengguna yang benar-benar ingin memberi akses luar biasa ini hanya bisa melakukannya lewat tindakan eksplisit.
Dalam pernyataannya, Apple menegaskan pihaknya akan memastikan pengguna memahami konsekuensi sebelum memberikan izin. "Ke depannya, kami akan memperkenalkan kontrol tambahan untuk memastikan pengguna yang benar-benar ingin memberikan tingkat akses luar biasa ini hanya dapat melakukannya dengan tindakan pengguna yang sangat eksplisit," tulis Apple dalam blog resminya.
Prompt izin Full Disk Access selama ini dinilai tidak cukup menjelaskan tingkat risikonya. Bahkan pengguna yang paham teknologi disebut kerap memberikan akses ini tanpa menyadari dampaknya.
Idealnya, menurut kritik yang beredar, teks peringatan harus jauh lebih tegas. Aplikasi yang meminta izin ini sebaiknya dijelaskan mampu membaca seluruh data pribadi, termasuk semua pesan dengan orang lain, dan bersifat sangat berbahaya kecuali pengguna benar-benar memahami serta memercayai pengembangnya.
Respons bawaan terhadap permintaan izin semacam ini seharusnya "Tidak". Tidak ada kata-kata yang terlalu keras untuk memperingatkan risikonya.
Apple diminta tidak mengulangi kesalahan yang terjadi pada macOS Sequoia terkait izin perekaman layar. Saat itu Apple mewajibkan konfirmasi izin setiap pekan dan setelah setiap restart.
Kebijakan tersebut menuai kritik luas karena dianggap mengubah macOS menjadi seperti Windows Vista dan memberlakukan "langganan yang tidak dibeli dan tidak bisa dibatalkan". Peringatan keras terhadap Full Disk Access memang perlu, tetapi jika pengguna tetap memilih memberi izin, macOS harus menerima keputusan itu tanpa konfirmasi paksa berkala.
Pengguna Mac di Indonesia yang memakai aplikasi agen AI atau utilitas pihak ketiga perlu memeriksa ulang daftar izin di System Settings. Cabut akses Full Disk Access untuk aplikasi yang tidak benar-benar membutuhkannya, terutama aplikasi yang terhubung ke layanan cloud asing.
Kebijakan baru Apple ini menjadi pengingat bahwa izin sistem di macOS bukan sekadar tombol "Allow" biasa. Pengguna yang terbiasa menginstal banyak aplikasi produktivitas dan AI agent wajib lebih selektif sebelum memberi akses ke seluruh isi disk.