Biaya Operasional Mobil Listrik vs Bensin per 100 Km, Selisihnya Rp46.000

Penulis: Yasir  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 13:33:01 WIB
Ilustrasi pengisian daya mobil listrik di SPKLU dengan tarif Rp2.466 per kWh.

GORONTALO — Auto2000 merilis simulasi biaya energi mobil listrik dan mobil bensin untuk jarak 100 kilometer, dengan selisih mencapai Rp46.000 per perjalanan. Perhitungan memakai tarif SPKLU Rp2.466 per kWh dan harga bensin Rp10.000 per liter. Angka ini baru mencakup biaya energi, belum perawatan, pajak, asuransi, dan depresiasi.

Perbandingan tersebut disusun Auto2000 dengan asumsi konsumsi listrik 15 kWh per 100 kilometer, sementara mobil bensin memakai rata-rata 12 kilometer per liter. Dari kedua asumsi itu, pengisian daya di SPKLU menelan Rp36.990, sedangkan pembelian bensin mencapai Rp83.000 untuk jarak yang sama.

Selisih Rp46.000 per 100 kilometer itu menjadi dasar simulasi jarak lebih jauh. Untuk 1.000 kilometer, mobil listrik membutuhkan sekitar Rp369.900 dan mobil bensin sekitar Rp830.000.

Tarif SPKLU Rp2.466 per kWh Jadi Patokan

Auto2000 memakai tarif pengisian daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum sebagai dasar hitungan. Angka Rp2.466 per kWh dikalikan konsumsi 15 kWh menghasilkan biaya Rp36.990 per 100 kilometer.

Besaran tarif ini tidak berlaku seragam di semua titik pengisian. Mengisi daya di rumah memakai skema biaya listrik yang berbeda, sementara layanan pengisian cepat di SPKLU umumnya dikenakan tambahan.

Mobil Bensin: 8,3 Liter untuk 100 Kilometer

Di sisi bahan bakar, konsumsi 12 kilometer per liter berarti mobil bensin butuh sekitar 8,3 liter untuk menempuh 100 kilometer. Dengan harga bensin di kisaran Rp10.000 per liter, pengeluaran mencapai Rp83.000.

Rentang harga bensin di pasaran sendiri bervariasi tergantung jenis dan wilayah. Semakin tinggi oktan yang dipakai, semakin besar pula biaya per kilometer yang harus ditanggung pemilik.

Angka Simulasi Bukan Patokan Mutlak

Auto2000 menegaskan perhitungan tersebut bersifat simulasi. Konsumsi energi mobil listrik maupun bensin sangat bergantung pada model kendaraan, kondisi lalu lintas, kecepatan, gaya mengemudi, dan pemakaian pendingin udara.

Rute dalam kota dengan stop-and-go memberi hasil berbeda dibanding perjalanan luar kota yang stabil. Begitu pula saat AC dinyalakan penuh di siang hari, konsumsi daya maupun bahan bakar ikut naik.

Yang Belum Masuk Hitungan

Simulasi ini hanya mengukur efisiensi energi, belum menyentuh biaya kepemilikan menyeluruh. Perawatan berkala, pemeliharaan ban, pajak tahunan, asuransi, sampai depresiasi harga kendaraan tidak dimasukkan.

Untuk mobil listrik, komponen seperti biaya penggantian baterai dalam jangka panjang juga perlu dipertimbangkan. Sementara mobil bensin punya pos pengeluaran rutin berupa oli, filter, dan servis berkala di bengkel resmi.

Meski begitu, potensi penghematan biaya energi mobil listrik tetap terlihat signifikan dari selisih per 100 kilometer. Calon pembeli disarankan menghitung sendiri sesuai pola penggunaan harian, jarak tempuh bulanan, dan akses ke titik pengisian daya.

Reporter: Yasir
Sumber: amp.suara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top