BONE BOLANGO — Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SNT 6 Bone Bolango menjadi penanda resmi beroperasinya sekolah baru tersebut. Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Gorontalo, Rudi Syaifullah, menyebut sekolah ini dirancang bukan hanya untuk peserta didik di dalamnya, tetapi juga menjadi fasilitator bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya.
"SNT ini mempunyai visi yang sangat mulia. Yang pertama, SNT akan menjadi fasilitator untuk pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia, termasuk di Bone Bolango. Kemudian SNT ini akan menjadi pusat keunggulan," ujar Rudi saat pembukaan MPLS di BPMP Provinsi Gorontalo, Senin (10/8/2026).
Rudi menjelaskan, SNT menempati posisi berbeda dibandingkan dua program sekolah unggulan lainnya. Sekolah Rakyat menyasar siswa dari desil 1 dan 2 dengan sistem asrama, sementara Sekolah Garuda ditujukan untuk desil 8, 9, dan 10 yang juga menerapkan sistem boarding.
SNT justru berada di tengah spektrum tersebut dan tidak menerapkan sistem asrama. Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak berprestasi, dengan tetap memberikan kesempatan siswa untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga setiap harinya.
"Kenapa tidak boarding? Kita memberikan kesempatan kepada anak setelah belajar di sini juga bisa bersama keluarga, bercerita, sehingga psikologinya akan lebih kuat," jelasnya.
Pada angkatan pertama, SNT 6 membuka dua jenjang sekaligus, yakni SMP dan SMA. Masing-masing jenjang menampung 40 peserta didik yang terbagi dalam dua kelas. Dengan total 80 siswa, setiap kelas hanya diisi 20 siswa agar guru dapat lebih fokus memetakan kemampuan individu.
"Kenapa 20? Agar pembelajarannya lebih efektif, lebih efisien, dan guru nanti lebih gampang memetakan anak," ujar Rudi.
Kualitas tenaga pendidik juga menjadi perhatian utama. Dari sekitar 60 ribu guru peserta PPG, hanya 12 guru yang terpilih untuk mengabdi di SNT 6 Bone Bolango. Proses seleksi kepala sekolah bahkan diikuti oleh ribuan pendaftar hingga akhirnya terpilih satu nama terbaik.
Setelah MPLS selesai, sekolah akan menjalankan asesmen untuk memetakan kompetensi dasar siswa. Pemetaan ini mencakup kemampuan bahasa Inggris, Matematika, IPA, dan aspek lainnya. Hasil asesmen menjadi dasar bagi guru untuk menentukan intervensi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.
"Semua kemampuan anak itu berbeda-beda. Karena berbeda-beda, perlu dipetakan. Setelah dipetakan, baru ditentukan intervensi apa yang tepat untuk anak itu," tambah Rudi.
Untuk sementara, proses belajar mengajar masih memanfaatkan fasilitas BPMP Provinsi Gorontalo. Pembangunan gedung permanen SNT 6 dijadwalkan dimulai pada Oktober 2026 di tanah lapang dekat masjid. Kawasan sekolah nantinya akan dilengkapi ruang kelas, gedung olahraga, kolam renang, lapangan sepak bola, serta lahan untuk pengembangan keterampilan hidup, pertanian, dan perdagangan.
Mayoritas siswa angkatan pertama berasal dari Kabupaten Bone Bolango, sebagian lainnya dari Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Gorontalo Utara. BPMP Gorontalo mendapat amanah mengawal SNT selama masa transisi hingga Desember 2026 sebelum akhirnya sekolah berdiri mandiri.
Rudi berharap kehadiran SNT dapat menghentikan kebiasaan orang tua menyekolahkan anak ke luar daerah. Ia menargetkan kuota penerimaan akan diperbesar pada tahun ajaran mendatang.
"Manfaatkanlah SNT ini sebagai sekolah nasional integrasi yang bertaraf nasional, yang dilengkapi dengan semua fasilitasnya," pesannya.
"Kita ingin mencetak anak-anak Bone Bolango yang unggul, anak-anak yang cerdas, dan anak-anak yang siap menghadapi tantangan di masa depan," pungkasnya.