GORONTALO — Keberadaan wisata hiu paus di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga pesisir. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Hiu Paus Botubarani, Wahab Matoka, menyatakan bahwa pendapatan masyarakat setempat telah terpenuhi sejak wisata ini dikelola secara komunal.
Perahu Milik Warga Jadi Andalan Utama
"Kalau berbicara masalah peningkatan pendapatan masyarakat di sini, itu sudah terpenuhi. Perahu-perahu yang ada di sini adalah milik pribadi masyarakat," ujar Wahab di Gorontalo, Kamis.
Masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada sektor wisata. Aktivitas ini menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga nelayan dan warga sekitar. Pengelolaan dilakukan dengan melibatkan masyarakat lokal, mulai dari pengelola pangkalan hingga penyedia jasa pendukung wisata.
Tarif Paket Wisata Diatur Lewat Peraturan Desa
Wisatawan yang berkunjung dapat memilih sejumlah layanan dengan tarif yang telah ditetapkan. Paket perahu kaca misalnya, dikenakan tarif Rp450 ribu per orang. Sementara layanan perahu biasa Rp100 ribu untuk tiga orang. Untuk snorkeling, biaya lokasi Rp35 ribu per orang, dan diving Rp60 ribu per orang, belum termasuk perlengkapan.
Wahab menegaskan tarif tersebut tidak dapat diubah secara sepihak. "Kalau masalah tarif tidak ada yang dilebihkan, tidak ada yang dikurangi, karena kami juga takut kalau terjadi persoalan antara pengunjung dan masyarakat," katanya.
Sepuluh Persen Pendapatan untuk Desa
Selain menggerakkan ekonomi warga, pengelolaan wisata hiu paus juga memberikan kontribusi kepada desa. "Sepuluh persen itu ke desa, karena di sini pangkalan hanya menarik jasa. Semua kegiatan di sini hanya menarik jasa," ujar Wahab.
Model pengelolaan berbasis komunitas ini dinilai mampu menjaga keberlanjutan wisata sekaligus memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh warga. Dengan tarif yang transparan dan aturan yang jelas, wisatawan pun mendapatkan kepastian layanan. Wisata hiu paus Botubarani menjadi contoh bagaimana potensi alam dapat dikelola untuk kesejahteraan bersama tanpa meninggalkan prinsip keadilan bagi masyarakat setempat.