GORONTALO — Jakarta — Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, BNI justru melaporkan pertumbuhan kinerja yang solid. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Kamis (6/8/2026), laba bersih bank pelat merah ini melesat signifikan, salah satunya berkat ekspansi kredit yang agresif namun tetap selektif.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa pertumbuhan ini bukan sekadar mengejar volume. Perseroan, kata dia, memilih untuk mengarahkan sumber daya ke sektor-sektor yang memiliki prospek sehat dan berkelanjutan.
"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," jelas Putrama di Jakarta.
Mesin Pertumbuhan Baru dari Dunia Digital
Salah satu motor penggerak yang paling menonjol adalah transformasi digital. Aplikasi super wondr by BNI mencatatkan lonjakan volume transaksi hingga 110 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna aplikasi tersebut telah mencapai 15,1 juta orang.
Angka ini bukan sekadar statistik. Tingginya transaksi digital mencerminkan pergeseran perilaku nasabah yang semakin bergantung pada layanan perbankan berbasis smartphone, sekaligus membuka pendapatan baru berbasis komisi dan biaya (fee based income) bagi perseroan.
Selain itu, kualitas aset yang tetap sehat menjadi fondasi penting. Di tengah ekspansi kredit yang tinggi, BNI disebut berhasil menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terkendali, sehingga fundamental bisnis tidak rapuh meski tekanan eksternal meningkat.
Selaras dengan Agenda Danantara
Langkah ekspansi yang diambil BNI tidak lepas dari koordinasi dengan Danantara Indonesia. Putrama menilai arah pengembangan bisnis perseroan sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang berfokus pada penguatan fundamental, tata kelola profesional, dan penciptaan nilai jangka panjang.
Artinya, target pertumbuhan yang dikejar bukan semata-mata untuk kepentingan jangka pendek, melainkan untuk membangun ketahanan korporasi yang lebih kokoh. Bagi investor, kinerja ini menjadi sinyal bahwa perbankan pelat merah masih menjadi sektor yang layak diperhitungkan di bursa.
Dengan permodalan yang kuat dan strategi yang jelas, BNI optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir tahun. Pasar pun akan mencermati apakah laju kredit 24,4 persen ini dapat dipertahankan di tengah potensi perlambatan ekonomi global.